Pages

Monday, December 14, 2009

Renungan

--Setangkai Mawar--

John Blanford berdiri tegak dari bangku di Stasiun.

Kereta Api sambil melihat ke arah jarum jam, pukul 6


kurang 6 menit. John sedang menunggu seorang gadis


yang dekat dalam hatinya tetapi tidak mengenal


wajahnya, seorang gadis dengan setangkai mawar.






Lebih dari setahun yang lalu John membaca buku yang


dipinjam dari Perpustakaan. Rasa ingin tahunya


terpancing saat ia melihat coretan tangan yang halus


di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku tersebut


adalah seorang gadis bernama Hollis Molleon. Hollis


tinggal di New York dan John di Florida. John mencoba


menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk saling


bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim ke


medan perang, Perang Dunia II. Mereka terus saling


menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat seperti


layaknya bibit yang jatuh di tanah yang subur dalam


hati masing-masing dan jalinan cinta merekapun


tumbuh.






John berkali-kali meminta agar Hollis mengirimkannya


sebuah foto. Tetapi sang gadis selalu menolak, kata


sang gadis "Kalau perasaan cintamu tulus,John,


bagaimanapun rupaku tidak akan berubah perasaan itu,


kalau saya cantik, selama hidup saya akan


bertanya-tanya apakah mungkin perasaanmu itu hanya


karena saya cantik saja, kalau saya biasa-biasa atau


cenderung jelek, saya takut kamu akan terus menulis


hanya karena kesepian dan tidak ada orang lain lagi


dimana kamu bisa mengadu. Jadi sebaiknya kamu tidak


usah tahu bagaimana rupa saya. Sekembalinya kamu ke


New York nanti kita akan bertemu muka. Pada saat itu


kita akan bebas untuk menentukan apa yang akan kita


lakukan."






Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun


Pusat di New York pukul 6 sore setelah perang usai.


"Kamu akan mengenali saya, John, karena saya akan


menyematkan setangkai bunga mawar merah pada kerah


bajuku", kata nona Hollis.






Pukul 6 kurang 1 menit sang perwira muda semakin


gelisah, tiba-tiba jantungnya hampir copot, dilihatnya


seorang gadis yang sangat cantik berbaju hijau lewat


di depannya, tubuhnya ramping, rambutnya pirang


bergelombang, matanya biru seperti langit, luar biasa


cantiknya....


Sang perwira mulai menyusul sang gadis, dia bahkan


tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang gadis tidak


mengenakan bunga mawar seperti yang telah disepakati.


Hanya tinggal 1 langkah lagi kemudian John melihat


seorang wanita berusia 40 tahun mengenakan sekumtum


mawar merah di kerahnya. "O....itu


Hollis!!!!"






Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis


berbaju hijau hampir menghilang. Perasaan sang perwira


mulai terasa terbagi 2 ingin lari mengejar sang gadis


cantik tetapi pada sisi lain tidak ingin menghianati


Hollis yang lembut dan telah setia menemaninya selama


perang. Tanpa berpikir panjang,


John berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah


baya itu dan menyapanya, "Nama saya John Blanford,


anda tentu saja Nona Hollis, bahagia sekali bisa


bertemu dengan anda, maukah anda makan


malam bersama saya?" Sang wanita tersenyum ramah dan


berkata "Anak muda, saya tidak tahu apa


artinya semua ini, tetapi seorang gadis yang berbaju


hijau yang baru saja lewat memaksa saya untuk


mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau


anda mengajak saya makan maka saya diminta untuk


memberitahu anda bahwa dia menunggu anda di restoran


di ujung jalan ini, katanya semua ini hanya ingin


menguji anda." (NN)






Pernahkah terpikir oleh anda sekalian, bahwa si pemuda


bernama John Blanford di atas akan menarik semua


perkataan-perkataan cinta romantis yang pernah di


tulis dalam surat-suratnya apabila, katakanlah memang


benar ternyata Nona Hollis hanyalah seorang wanita


gemuk dengan rambut hampir beruban.


Untunglah John seorang yang sangat cerdas dan


berhikmat. Dia bisa saja berpikir pasti dapat


mengeluarkan sebuah alasan lain untuk mengagalkan


lamarannya. Dan tentunya jika itu terjadi, maka cerita


ini pasti tidak akan ada.






Seseorang akan sangat mudah tertipu dan tergoda untuk


mengikuti mata jasmani dan mengabaikan kata hati.


Orang lebih menyukai apa yang dapat dia lihat dan


sentuh dari pada apa yang dapat dirasakan dan di


sentuh oleh hatinya. Ini adalah salah satu titik


kegagalan manusia dalam menjalani kehidupannya sebagai


orang yang beriman. Kita lebih tertarik melihat sebuah


senyuman manis, dari pada sikap hati. Kita lebih


menyukai bola mata yang bulat dan bening ketimbang


mata hati yang tajam dan peka. Kita lebih menyukai


wajah rupawan dari pada karakter yang bagus. Singkat


kata, kita semua lebih menyukai hal-hal yang bersifat


jasmaniah ketimbang hal-hal rohaniah. Itulah sebabnya


seringkali kita tersandung karena ulah kita sendiri!




--Semoga Bermanfaat--





2 komentar:

Ramadhani Akbar said...

wow...wow....wow....... perasaan ku ingin senyum lebar lebar selebar langit...tapi ngga bisa...

subahanallah..... mantapzz...

Unknown said...

:) senyum aja kka .. asal jgn ketwa ..