Pages

Saturday, October 19, 2013

Mari Memberi Kenangan dengan Apik

Hai .. Selamat malam (nulisnya malam).

Malam-malam begini emang paling enak buat nulis. Catet ! nulis (non skripsi) ya. Akhir-akhir ini males banget nyentuh jurnal nambahin referensi proposal dan konsul sama pembimbing. Kebayang ga sih, pas lagi mood baik datang buat baca jurnal eh malah ketiduran -______-". Terus pas pengen download bahan tulisan, eh kaga sengaja tuh kebuka situs lain. ethamawarni-harahap.blogspot misalnya, nulis yang laeen deh akhirnya. Lah skripsi malah dianggurin. Kaya yang sekarang ini nihh.

Oh iya aku ingin berkisah, 
Jadi begini.. 
 
Niatku di minggu malam kali ini hanya bersantai dengan kamar. Hanya itu.. dan seketika berubah arah ketika mama menelpon minta nemenin ke sekolah adek karena ada acara murid dan orang tua disana. Kalau kau jadi aku, apa kau juga menggerutu sepertiku ? Aku mengiyakan ajakan mama dengan nada menolak. Huffftfh.. Satu desahan keluhan aku bunyikan. Karena masih ada waktu satu jam sebelum menjemput mama di kantor, aku lebih memilih online. Salah satu blog favoritku tak pernah absen aku kunjungi, mas-aih.blogspot.com namanya. Aku sedang mengacak tulisan luar biasanya dan "Kehilanga atas Kehilangan" menjadi pemula kunjunganku. Kau tahu apa yang paling membuatku tersentak dari tulisan itu ? Begini..

"Ya, kehilangan terbesar adalah kehilangan perasaan kehilangan."
"Hhm.."
"Ketidakpedulianmu terhadap perasaan kehilangan adalah kehilangan terbesarmu."
"Maksudmu, kehilangan atas kehilangan?"
"Tepat. Betapa banyak dari kita yang begitu acuh atas kebersamaan. Menafikan setiap detak detik waktu yang telah dilalui. Tak menyadari bahwa setiap langkah yang telah dilewati begitu banyak menciptakan kenangan. Lalu tanpa bisa menahan, semua kenangan tersebut perlahan menghilang tanpa sempat mengucap salam perpisahan. Bukankah hari esok selalu lebih dekat dibanding detik waktu yang telah lalu? Maka ketidakpedulian pada perasaan kehilangan itulah kehilangan terbesar."
"Lalu harus bagaimana?"
"Mudah saja. Ciptakan kenangan terbaik selama hidup. Antusias dalam setiap kebersamaan. Mensyukuri apa yang dilalui sebagai sebuah mozaik kehidupan yang perlu dimuliakan. Lalu menyadari, bahwa dalam setiap kenangan yang terlewat di masa silam adalah pembelajaran yang membuatmu bisa seperti sekarang. Menjaga kenangan sebagaimana rasa senang dalam menikmati dendang irama nostalgia. Maka dengan demikian, kau akan selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap dentang usia.
 
Entahlah, aku jadi ingat mamaku. Betapa jarang sekali moment berdua dengan mama aku ciptakan. Apa jangan-jangan perasaan kehilangan sudah mulai lari perlahan dari diriku ? Aku jadi menyesal telah menyuarakan sedikit penolakan dari permintaan ringan mamaku. Hanya ingin aku menemaninya saja padahal. Aku seolah belum berpengalaman soal kehilangan. Bersama ayahku saja, momen kebersamaan masih sangat kurang aku rasakan, dan beliau sudah pergi meninggalkan. "Apa kau mau mengulang demikian ?" , suara hatiku membisik tajam.
 
Apa kau tahu ? Tuhan punya berbagai cara bijak untuk menyayangi umatnya. Termasuk yang terjadi padaku sekarang. 
 
Baiklah, sudah hampir jam 10 malam. Aku harus menjemput orang tua tunggalku dulu. Selamat menikmati kebersamaan sebelum hilang merebutnya pergi, kawan ! 
 
Mari memberi kenangan dengan apik (9'.')9

Read more...

Wednesday, October 9, 2013

Kepadamu Kawan..

Perihal gigilnya kehilangan, sudahi saja. Dekap ia dengan hangatnya keikhlasan.

Kepadamu kawan..
Aku tau hilang sulit kau lawan.
Aku juga demikian saat kehilangan.
Kesunyian meremah, merasuk selaksa sepi.
Sepi yang paling kubenci, namun masih saja aku kawani.

Aku tak bermaksud menggurui.
Hanya saja, melihat banjir di matamu..
Aku juga tertular sepi..
Bergerimis meratapi..
Sepi paling sendiri.

Oh iya, sepi pernah mengatakan kepadaku perihal kehilangan.
Sewaktu-waktu yang tak bisa kau prediksi.
Kehilangan adalah perampok kejam yang merampas kebahagian.
Baru kutahu, sepi telah membohongi.

Tangisan dan kerinduan tak apa kau perlihatkan.
Aku juga demikian.
Tentang luka saat ditinggalkan..
Perihal kenangan yang sulit dihapuskan..

Kepadamu kawan..
Aku hanya ingin memberitahukan.
Kehilangan sebenarnya mengajarkan kedewasaan.
Tentang kepemilikan dalam ketidakabadian.
Tentang kenangan dalam keikhlasan.

Kepadamu kehilangan..
Dewasakan yang ditinggalkan dengan kelapangan.
Bahwa yang hilang, tetap akan abadi.
Tentang apa yang dimiliki, semua tidak abadi.

Kepadamu yang meninggalkan..
Aku hanya bisa mendoakan..

"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami yang menghancurkan penjagaan, dosa-dosa  yang menurunkan siksaan, dosa-dosa kami yang mengubah kenikmatan, dosa-dosa kami yang menahan permohonan, dosa-dosa kami yang mendatangkan cobaan dan dosa-dosa kami yang memutuskan harapan"

Kepadamu kawan..

Tribute to Sahabatku yang dirundung kehilangan



      
Read more...

Tuesday, October 8, 2013

Pertanyaan singkat


Aku sedang asyik berkirim instant message ke teman lamaku. Banyak hal yang kami saling tanyakan, dan hal yang membuatku terbata membalas pesannya adalah saat dimana dia tiba-tiba bertanya, "Kalau boleh tau, mau kamu didik jadi apa anakmu kelak tha ?". Entahlah..untuk pertanyaan satu ini sepertinya tak selancar pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, aku bisa menjawabnya. Hanya saja, yang ada di pikiranku adalah mempunyai anak yang lebih baik akhlaknya dari aku sendiri. Itu saja..


Padahal semestinya sedari sekarang kita harus sudah memikirkannya, bahwa kelak kapanpun nanti dengan seizinnya kau akan mempunyai keturunan. Mau itu baik ataupun jelek (naudzubillah) akhlaknya, yang berperan besar selain kehendak-Nya adalah titahmu dalam mengupayakan kebaikan. Untuk dirimu terutama, yang insya Allah akan berpengaruh besar terhadap keturunanmu kelak. Pernah dengar pepatah "Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya" kan ? Agaknya aku sudah mulai paham makna peribahasa yang guru SD ku perkenalkan. 
Ayahku pernah berucap, anak yang nakal siapapun pasti akan bertanya siapa dan bagaimana orangtuanya. Begitu juga dengan anak yang baik, semua pasti akan bertanya siapa dan bagaimana sang orangtua mendidik dan menjaganya. Walaupun masih banyak anak yang berakhlak baik sedang memiliki backround orang tua yang berkebalikan. Maka jagalah selalu kehormatanmu, bukan untuk siapa-siapa. Hanya untuk dirimu..
Jadi, aku bertekad. Sesampai manapun aku menempuh pendidikan formalku. Sebagai perempuan, aku akan terus tetap belajar dan mendahaga akan ilmu. Oki Setiana Dewi dalam bukunya "Cahaya di Atas Cahaya" mengatakan al-umm hiya al-madrasatu al-ula. Bahwasanya ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ibu sebagai sekolah pertamanya, dan Ibu adalah pemberi ilmu pertama bagi anak-anaknya. Aku selalu mematrikan ini dibenak rencana masa depanku. Seburuk apapun masa lalukku, sejelek apapun akhlakku dulu. Entahlah.. aku tetap harus jadi pengenal kebaikan pertama bagi anak-anakku. Menurutku tak ada kata terlambat untuk terus memperbaiki diri. 
Kau ingin mempunyai keturunan yang rajin mengaji ? Lakukan sedari dini.  
Kau ingin agar anakmu tak berkata menyakiti ? Lembuti tiap tutur katamu sedari dini.
Kau ingin anakmu sukses dikemudian hari ? Tanamkan kejujuran dan keteguhan diri mulai dari dirimu sendiri.

Semoga kita dikaruniakan anak-anak penggiring surga bagi kefasikan kita yang tak kuasa terpatri. Anak-anak dengan kejujuran yang senantiasa tertanam di sanubari. Sebagai penuntun kedamaian abadi yang mengalir sungai-sungai dibawahnya. 
..dari pertanyaan singkat yang ternyata sangat berarti..
Read more...

Thursday, October 3, 2013

Katamu..

Berbesar sabar, sulit aku lakukan bila masih ada sesumbar ketidakpedulian. Katamu, ketidakpedulian adalah kejahatan tanpa perbuatan. Maka aku simpulkan, acuhmu adalah genderang ketakutan yang bergerilya datang menancap perih di selaksa harap kebaikan.
Padaku..
Read more...

Tuesday, October 1, 2013

Semoga Masih Kamu

Perihal sabar, aku menyandingkan dengan doa-doa kebaikan disetiap semoga yang aku lirihkan.
Masih kamu, bagian dari deret terkasih yang tak jemu aku lembutkan disetiap semogaku.
Masih aku, pelaku kebahagiaan dan kesedihan.
Hanya aku dan Tuhan penyembuh luka dengan bait-bait keikhlasan dan kelapangan.
Semoga masih kamu, pelengkap kebahagiaan yang aku elu-elukan.



>> Etha


Read more...