Pages

Sunday, December 29, 2013

Oh Allah, Why Me ?

Apa kau pernah merasakan masa dimana dirimu sendiri pun tak bisa membantumu bangkit dari keterpurukan kehidupan ? Merasa hanya kamu lah mahluk bumi satu-satunya yang paling tidak bahagia saat itu. Seolah arah manapun jalan kebaikan yang sudah dibukakan tak mampu kau pilih hanya agar kau terlepas dengan penatnya kehidupan. Menganggap hanya orang-orang sepertimu yang selalu merasakan masa-masa kelam. Masa dimana permasalahan adalah satu-satunya hal yang sibuk kau hilangkan.

Mari renungkan sejenak..

Tidak ada manusia yang tak pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Entah itu tua  muda, kaya miskin, berpendidikan ataupun tidak, semua pasti pernah merasakannya. Seburuk-buruk manusia adalah yang tak bisa melepaskan cengkraman kegelisahan hingga akhirnya mencelakakan. Jalan satu-satunya adalah dengan hanya menggantungkan harapan kepada Sang Maha Pemberi Ketenangan. Permasalahan timbul menganak menjadi kegelisahan yang berujung pada ketidaktenangan. Aa Gym pernah mengatakan orang yang selalu sengsara adalah perbanyak mikir namun kurang dzikir. Innalillah .. Terlalu menyibukkan diri dengan keduniaan atau bahkan mencintainya terlalu dalam bisa jadi menjadi halanganmu untuk mendapat ketenangan. "Allah akan mengingat kamu bilamana kamu mengingat-Nya". Seolah tidak yakin kepada Allah dan menyakini Allah lah pemilik segalanya. Sehingga masalahmu tak sepenuhnya kau serahkan kepada Allah. Bahwasanya setiap yang Allah rencanakan tidak ada yang sia-sia dan memiliki maksud tujuan.

Mengapa kau diuji ?

"..Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan; "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya kami telah menguji org2 yg sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui org2 yg benar dan sesungguhnya Dia mengetahui org2 yg dusta." (Al-Ankabut:2-3)

"..Tidak ada kesusahan (atau bala bencana) yang menimpa (seseorang) melainkan dengan izin Allah; dan siapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya (untuk menerima apa yang telah berlaku itu dengan tenang dan sabar); dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu." (At-Taghaabun:11)

Cobaan yang kau alami terlalu berat ?

"..Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Al-Baqarah:286)

Apa yang harus kau lakukan ?

"..Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasai) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (Al- Baqarah:155)

"..Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya sholat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk." (Al-Baqarah:45)

Kepada siapa seharusnya kau meminta pertolongan ?

"..Cukuplah bagiku Allah (yang menolong dan memeliharaku), tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; kepadaNya aku berserah diri, dan Dia lah yang mempunyai Arasy yang besar". (At-Taubah:129)


 Jadi kau tak perlu menanyakan, oh Allah.. Why me ?

Read more...

Saturday, December 28, 2013

Happy mother day

Read more...

Saturday, December 21, 2013

Apa kau pernah tahu ? Ia itu ibuku ..

Apa kau pernah dimarahi habis-habisan karena sakit tifusmu kambuh, namun ketika watunya makan dengan perlahan dia menyuapimu penuh kesabaran ?

Apa kau pernah merasa sangat teramat nyaman saat kau terjatuh dari sepedamu dan kau menangis kesakitan, tapi dengan peluk dan cium hangatnya rasa sakitmu mulai menghilang ?
Pernah merasakan lembutnya belaian meski kerutannya menghias tangan ?

Apa kau pernah melihat ia tidak membelikanmu baju lebaran tiap tahunnya, padahal baju lebarannya tak pernah diganti hampir 5 tahun lamanya ? Ia selalu membelikanmu ..

Kau pasti tidak pernah melihat ia menangis di depanmu, namun seketika waktu air matanya jatuh mengalahkan hujan saat ayahmu telah dipanggil Tuhan ?  Pernah demikian ?

Apa kau pernah melihat ia yang sepulang kerja harusnya merebahkan diri mengistirahatkan badan, namun tetap melakukan pekerjaan saat malam sudah semakin panjang ?

Apa kau pernah selalu ditelpon tiap hari bahkan mengalahkan pacarmu menghubungi hanya untuk mengetahui kabarmu hari ini ?

Apa kau pernah melihat ia sehari saja tak pernah melakukan perkerjaan layaknya kamu saat akhir pekan ? Tidak Bukan ?

Apa kau pernah melihatnya tidur sedangkan kau belum pulang kerumah padahal jam sudah menunjukkan tengah malam ? Ia selalu menunggumu ..

Apa kau pernah melihat ia melakukan pekerjaan yang tak seharusnya ia lakukan ?
Pernah melihatnya naik pohon, menebang ranting hanya agar pohon mangga di rumah tak menghalangi jalanan ?
Pernah melihatnya memperbaiki bola lampu yang mati hanya agar kau tak kegelapan di saat malam menjelang ?
Pernah melihatnya tiap hari bolak-balik bengkel hanya agar mobil di rumah bisa dipakai untuk mengantarmu sekolah saat musim hujan ?
Pernah melihatnya memperbaiki pipa pembuangan, hanya agar mencuci piring jadi lebih gampang ?

Apa kau pernah dilantunkan doa-doa kebaikan kepada hal-hal kecil yang bahkan kau sendiri tak pernah berdoa demikian ? Bahkan mendoakan dirinya saja jarang ia lakukan. 

Apa kau pernah dibawakan makanan sepulang dia bekerja, padahal perutnya sendiri belum diisi namun ia lebih memilihmu menghabiskannya ? "Makan saja nak, ibu sudah mencicipinya tadi".

Apa kau pernah menyimpan rahasia sedemikian rapatnya, namun tetap saja ia selalu mengetahuinya padahal engkau tak pernah sekalipun menceritakannya ?

Apa kau pernah merasa sesedih ini, saat sadar rambut hitamnya kini sudah mulai memudar ? Pernah baru menyadari sudah berpuluh tahun ia menyayangimu, sesetia itu  dia ada di hidupmu ?

Apa kau pernah tahu ? Ia itu ibuku ..

Ibu yang tak pernah kalah dengan lelah, tak pernah berkeluh kesah, namun tetap akan selalu tabah oleh segala resah. Ibu yang selalu menguatkanku walau dirinya sendiri sedang lemah. Ibu yang selalu menghidupiku walau dirinya sendiri lelah. Ibu yang selalu menyayangiku walau anaknya telah banyak berubah.  Ibu yang mampu melihat kebelakang tanpa harus menoleh, namun selalu tahu apa yang terjadi denganku meskipun aku dikejauhan. Ibu yang selalu jadi orang terdepan melindungiku bahkan disaat aku berbuat salah.

Ada dua hal yang sangat ajaib dimiliki ibu, yaitu senyum dan air mata. Sebab, aku sendiri anaknya bahkan tidak pernah bisa menebak kapan ia harus menggunakan salah satu dari dua hal itu. Bahkan disaat yang bersamaan pun, aku tak tahu kapan ia menggunakannya.



"Mothers hold their children's hands for a short while, but their hearts forever. - Ibu memang memeluk anak-anak mereka hanya sebentar, tetapi hati mereka (ibu) memeluk anak-anak mereka selamanya." - unknown


Happy Mothers Day to Mama \o/



 
Read more...

Saturday, December 14, 2013

Biarkan saja seperti apa adanya


Read more...

Tuesday, December 10, 2013

Zahra dan Eropa

"Ibu, apa aku boleh pergi ke Eropa ?", gadis manis itu bertanya sambil bersandar di bahu Ibunya. "Sebutkan hal apa yang membuatmu ragu pergi kesana ?", jawab Ibunya dengan senyum dan pelukan menenangkan. "Ibu yang membuatku ragu meneruskan mimpiku", jawabnya polos. Ibunya hanya tercengang tak memberi jawaban. Gadis berambut hitam panjang itu meneruskan, "Ibu adalah satu-satunya harta berhargaku, dan aku tak mau meninggalkannya. Tapi aku sangat yakin kalau Ibu pasti tak mau aku ajak kesana, Ibu pasti lebih mementingkan warung Ronde dibanding ikut denganku nanti. Ibunya hanya tertawa sambil mempererat pelukannya. "Nak, Ibu bangga kau masih setia dengan mimpimu untuk pergi ke Eropa. Ibu pun tak kalah bangga denganmu yang tetap bersekolah meski Ibumu hanya penjual Ronde", mata wanita tua itu menggenang namun belum tumpah. 
 
"Zahra, cukup sudah kamu membantu Ibu. Sebaiknya kamu pulang, bersihkan badanmu dan beristirahatlah ! Besok adalah hari kelulusanmu, tak seharusnya selarut ini kamu masih menemani Ibu", pinta Ibunya sambil menahan Zahra untuk melanjutkan mencuci mangkuk-mangkuk Ronde. "Baiklah Bu, aku pulang. Ibu juga sebaiknya menutup warunga lebih cepat karena aku ga mau liat Ibu mengantuk saat menghadiri pesta kelulusan SMA ku besok pagi. Dielusnya kepala gadis kesayangannya itu, "Tentu Noura Zahratusitha", si Ibu tersenyum.

Cahaya lampu yang tak terlalu terang menjadi penunjuk jalan pulang di kesunyian. Zahra, gadis manis dengan rambut hitam legamnya berjalan tanpa gelisah menuju rumahnya. Jalanan ini sudah ia lalui tujuh belas tahun lamanya, dan tak banyak yang berubah. Jalanan sempit menuju perkampungan rumahnya hanya memiliki lebar setengah meter. Hanya rerumputan dan dinding-dinding bangunan besar yang menjadi pertanda jalan di situ. Entahlah, malam kali ini tak lebih sepi dari gegalutan Zahra. Dalam perjalanan panjangnya menapaki jalanan, sesenggukan ia menahan air mata. Ini kali ketiga ia menangis. Menangis di malam penuh seringai sepi di jalanan ini, sesudah ia pulang membantu Ibunya di warung Ronde di sudut jalan besar dan dengan masalah yang sama. Tangis pertamanya karena ia pesimis bisa melanjutkan sekolah ke SMP, tangis kedua begitu juga dan tangis ketiga ini sama halnya dengan sebelumnya. Selama 12 tahun bersekolah, ia selalu mengandalkan beasiswa yang ia peroleh karena prestasinya. Kali ini ia agak pesimis, karena untuk biaya kuliah ia sadar betul bukan perkara gampang ia dan Ibunya usahakan. Disatu sisi, ia ingin sekali meneruskan mimpinya menjadi sarjana Kimia profesional. Namun, disisi kemanusiaannya ia seakan tak tega bila terus-menerus menggantungkan hidupnya dengan beasiswa dan kepada Ibunya terutama. Ia sadar, rambut Ibunya sudah memutih dengan tubuh yang tak sekuat sepuluh tahun sebelumnya. Itulah alasan air mata tak kuasa berhenti jatuh di pipinya. 

"Muhammad Hasmy sebagai peringkat ketiga, Noura Zahratusitha sebagai peringkat kedua dan untuk peringkat pertama jatuh pada Mira Sekar Ayu", dengan lantang mc acara membacakannya. Seluruh siswa pun bertepuk tangan riuh sebagai ucapan selamat kepada ketiga temannya yang menduduki peringkat teratas UAN di sekolahnya. Disudut kursi orang tua siswa, terlihat sosok perempuan tua dengan pakaian sederhana dituntun untuk menaiki podium panggung mendampingi Zahra menerima penghargaan bersama ketiga temannya. "Zahra, terimakasih sudah menjadi anak Ibu yang baik sampai saat ini", ucap Ibunya sambil mencium pipi Zahra. Sembari menuruni podium, mata Zahra sembab. Haru biru tak terasa sudah ia lalui hingga saat ini, dan Ibunya senantiasa tak pernah absen menemani. 

"Ibu, aku masih ingin bersekolah bu. Aku ingin seperti yang lain yang sibuk memikirkan dimana nantinya ia kuliah, jurusan apa yang akan diambil. Ibu aku iri...," Zahra menangis dipelukan Ibunya. Saat itu, sudah hampir satu bulan berlalu semenjak kelulusan dan ia hanya membantu Ibu menyiapkan dagangan ronde menjelang senja nanti. "Sabar nak, kau ingat pesan Ayahmu dulu. Hai masalah besar, aku mempunyai Tuhan yang Maha Besar", menyemangati anaknya. "Redakan kegundahanmu, kurangi keluhanmu. Zahra yang Ibu kenal selalu penuh semangat dan gigih berusaha atas apa yang ia kehendaki. Berdoalah nak, semoga apa yang kau kehendaki selaras dengan garis hidupmu", nasihat Ibunya menenangkan.  Mereka pun berjalan sambil mendorong gerobak menuju sudut jalan besar membuka warung Ronde dagangan Ibunya.

"Zahra ! Apa kau bisa cepat sedikit jalannya", keluh temannya. "Apa kau bisa pelan sedikit jalannya ?", balas Zahra. Keduanya hanya tertawa dan bergegas menuju ruang keberangkatan Internasional Soekarno-Hatta. Mira dan Zahra, dua gadis ceria itu sebentar lagi akan meninggalkan Indonesia. Yaa.. Jerman adalah negari keduanya nanti. Ayah Mira yang seorang dosen ternama di kotanya merekomendasikan Zahra untuk mendapatkan beasiswa ke Jerman atas prestasinya.  Di pesawat, Zahra mencium foto Ibunya sembari berujar dalam hati, "Jaga kesehatan Ibu, kau harus tetap sehat saat aku pulang nanti". Kini, keduanya akhirnya sama-sama akan pergi ke Eropa meraih mimpinya.
 
Read more...