"Ibu, apa aku boleh pergi ke Eropa ?", gadis manis itu bertanya sambil bersandar di bahu Ibunya. "Sebutkan hal apa yang membuatmu ragu pergi kesana ?", jawab Ibunya dengan senyum dan pelukan menenangkan. "Ibu yang membuatku ragu meneruskan mimpiku", jawabnya polos. Ibunya hanya tercengang tak memberi jawaban. Gadis berambut hitam panjang itu meneruskan, "Ibu adalah satu-satunya harta berhargaku, dan aku tak mau meninggalkannya. Tapi aku sangat yakin kalau Ibu pasti tak mau aku ajak kesana, Ibu pasti lebih mementingkan warung Ronde dibanding ikut denganku nanti. Ibunya hanya tertawa sambil mempererat pelukannya. "Nak, Ibu bangga kau masih setia dengan mimpimu untuk pergi ke Eropa. Ibu pun tak kalah bangga denganmu yang tetap bersekolah meski Ibumu hanya penjual Ronde", mata wanita tua itu menggenang namun belum tumpah.
"Zahra, cukup sudah kamu membantu Ibu. Sebaiknya kamu pulang, bersihkan badanmu dan beristirahatlah ! Besok adalah hari kelulusanmu, tak seharusnya selarut ini kamu masih menemani Ibu", pinta Ibunya sambil menahan Zahra untuk melanjutkan mencuci mangkuk-mangkuk Ronde. "Baiklah Bu, aku pulang. Ibu juga sebaiknya menutup warunga lebih cepat karena aku ga mau liat Ibu mengantuk saat menghadiri pesta kelulusan SMA ku besok pagi. Dielusnya kepala gadis kesayangannya itu, "Tentu Noura Zahratusitha", si Ibu tersenyum.
Cahaya lampu yang tak terlalu terang menjadi penunjuk jalan pulang di kesunyian. Zahra, gadis manis dengan rambut hitam legamnya berjalan tanpa gelisah menuju rumahnya. Jalanan ini sudah ia lalui tujuh belas tahun lamanya, dan tak banyak yang berubah. Jalanan sempit menuju perkampungan rumahnya hanya memiliki lebar setengah meter. Hanya rerumputan dan dinding-dinding bangunan besar yang menjadi pertanda jalan di situ. Entahlah, malam kali ini tak lebih sepi dari gegalutan Zahra. Dalam perjalanan panjangnya menapaki jalanan, sesenggukan ia menahan air mata. Ini kali ketiga ia menangis. Menangis di malam penuh seringai sepi di jalanan ini, sesudah ia pulang membantu Ibunya di warung Ronde di sudut jalan besar dan dengan masalah yang sama. Tangis pertamanya karena ia pesimis bisa melanjutkan sekolah ke SMP, tangis kedua begitu juga dan tangis ketiga ini sama halnya dengan sebelumnya. Selama 12 tahun bersekolah, ia selalu mengandalkan beasiswa yang ia peroleh karena prestasinya. Kali ini ia agak pesimis, karena untuk biaya kuliah ia sadar betul bukan perkara gampang ia dan Ibunya usahakan. Disatu sisi, ia ingin sekali meneruskan mimpinya menjadi sarjana Kimia profesional. Namun, disisi kemanusiaannya ia seakan tak tega bila terus-menerus menggantungkan hidupnya dengan beasiswa dan kepada Ibunya terutama. Ia sadar, rambut Ibunya sudah memutih dengan tubuh yang tak sekuat sepuluh tahun sebelumnya. Itulah alasan air mata tak kuasa berhenti jatuh di pipinya.
"Muhammad Hasmy sebagai peringkat ketiga, Noura Zahratusitha sebagai peringkat kedua dan untuk peringkat pertama jatuh pada Mira Sekar Ayu", dengan lantang mc acara membacakannya. Seluruh siswa pun bertepuk tangan riuh sebagai ucapan selamat kepada ketiga temannya yang menduduki peringkat teratas UAN di sekolahnya. Disudut kursi orang tua siswa, terlihat sosok perempuan tua dengan pakaian sederhana dituntun untuk menaiki podium panggung mendampingi Zahra menerima penghargaan bersama ketiga temannya. "Zahra, terimakasih sudah menjadi anak Ibu yang baik sampai saat ini", ucap Ibunya sambil mencium pipi Zahra. Sembari menuruni podium, mata Zahra sembab. Haru biru tak terasa sudah ia lalui hingga saat ini, dan Ibunya senantiasa tak pernah absen menemani.
"Ibu, aku masih ingin bersekolah bu. Aku ingin seperti yang lain yang sibuk memikirkan dimana nantinya ia kuliah, jurusan apa yang akan diambil. Ibu aku iri...," Zahra menangis dipelukan Ibunya. Saat itu, sudah hampir satu bulan berlalu semenjak kelulusan dan ia hanya membantu Ibu menyiapkan dagangan ronde menjelang senja nanti. "Sabar nak, kau ingat pesan Ayahmu dulu. Hai masalah besar, aku mempunyai Tuhan yang Maha Besar", menyemangati anaknya. "Redakan kegundahanmu, kurangi keluhanmu. Zahra yang Ibu kenal selalu penuh semangat dan gigih berusaha atas apa yang ia kehendaki. Berdoalah nak, semoga apa yang kau kehendaki selaras dengan garis hidupmu", nasihat Ibunya menenangkan. Mereka pun berjalan sambil mendorong gerobak menuju sudut jalan besar membuka warung Ronde dagangan Ibunya.
"Zahra ! Apa kau bisa cepat sedikit jalannya", keluh temannya. "Apa kau bisa pelan sedikit jalannya ?", balas Zahra. Keduanya hanya tertawa dan bergegas menuju ruang keberangkatan Internasional Soekarno-Hatta. Mira dan Zahra, dua gadis ceria itu sebentar lagi akan meninggalkan Indonesia. Yaa.. Jerman adalah negari keduanya nanti. Ayah Mira yang seorang dosen ternama di kotanya merekomendasikan Zahra untuk mendapatkan beasiswa ke Jerman atas prestasinya. Di pesawat, Zahra mencium foto Ibunya sembari berujar dalam hati, "Jaga kesehatan Ibu, kau harus tetap sehat saat aku pulang nanti". Kini, keduanya akhirnya sama-sama akan pergi ke Eropa meraih mimpinya.



0 komentar:
Post a Comment