Pages

Monday, February 24, 2014

Bahwa Kehilangan

Malam ini, niatan hati mama, aa, aku untuk menjenguk Julak (panggilan kaka tertua dalam bahasa Banjar) yang sedang koma berubah menjadi duka bagi kami sekeluarga. Tak berapa lama dari kedatangan kami ke ruang ICU, beliau sudah diperbolehkan Tuhan untuk kembali pada-Nya. Tak ayal tangis pun pecah riuh tak ramah, pertanda bahwa kehilangan itu sungguh tidak mudah. “Sesungguhhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali”. Sudah lama sekali aku memang tidak bercengkerama dengan beliau, terlebih saat kami sekeluarga sudah berhijrah ke kota Martapura. Hampir sepuluh tahun mungkin aku jarang bertemu, itupun hanya pada saat Lebaran. Mungkin itu yang membuat tangisku tidak tumpah. Mungkin belum .. Kenangan yang diciptakan Tuhan atas beliau hanya sedikit yang aku miliki, mungkin itu penyebabnya. Hanya saja, tangis tak henti dan pingsan karena tak kuat menahan goncangan oleh keluargaku yang lain tentu sangatlah mengiris batinku yang langsung melihat dan mendengarkan. Memoar masa lalu dikala aku pun demikian, kini kembali lagi untuk mengingatkan.

Bahwa kehilangan, akan selalu sebagai pelengkap kehidupan.
Sekedar mengingatkan bagi yang ditinggalkan.
Suratan takdir bagi yang meninggalkan.
Bahwa kematian…
adalah garis Tuhan sebelum engaku diciptakan.
Dengan pergi, orang akan mengerti.
Bahwa keberhargaan kesempatan dalam kebersamaan
adalah satu-satunya buah tangan manis bagi kami yang ditinggalkan.

Siapapun yang sedang dirundung kehilangan, selimuti tangismu dengan doa dan harapan. Semoga pemahaman-pemahaman baik itu segera datang, bahwa kehilangan tak akan mampu memutus jalinan kehidupan. Ini hanya soal waktu, kelak kita pun demikian.
Read more...

Wednesday, February 19, 2014

Februari

        Februari sudah mendekati ke dua puluh dua tahunnya aku diberi kesempatan hidup. Dua puluh dua tahun, angka cantik bukan ? Jatuhnya memang tepat di hari minggu, dan adalah hari dimana waktunya aku bekerja paruh waktu. Jadi tak ada yang spesial sekali di hari itu. Malam minggunya ada saja yang mengucapkannya terlebih dulu, yang tentu orang lain tak terpikirkan untuk melakukannya juga. Karena dalam Islam ba'da magrib di sabtu masehi sudah termasuk hari ahad, maka dialah orang pertama yang mengucapkan "selamat ulang tahun" kepadaku. Kalo ada yang bertanya apa kamu senang ? Tentu saja aku senang :)


         Menyambut 16 Februari 2014 sudah aku mulai sejak jam 2 pagi, maksudku malam itu aku tidur uring-uringan. Bukan karena memikirkan hari ulang tahunku atau kejutan apa yang nantinya teman-temanku siapkan. Namun ternyata Tuhan sedang mengirimkan sakit yang tiba-tiba saja datang, yap masuk angin. Penyakit sederhana yang bisa dipastikan karena akhir-akhir ini aku pulang malam tanpa memakai jaket tebal sebagai tameng perlawanan. Subuh di dua pulu dua tahun pertamaku juga sangat terasa berat aku lakukan. Kepala seakan menolak untuk diangkat berjalan, dan tubuhku terasa sakit saat air wudhu aku usapkan. Sayangnya lagi mama pagi-pagi sudah berangkat entah bekerja atau memang ada urusan dan dapur masih sepi belum dipakai untuk pagi ini. Aku hanya bisa rebahan di kasur kusam sambil twitteran dan facebookan karena ucapan selamat sudah mulai berdatangan. Karena perut mulai lapar akupun berniat masak, mencek isi kulkas dan yaha ! hanya ada nugget. Entah karena badanku memang lagi tidak fit atau memang karena aku ga bisa masak, nugget tersebut gosong hanya dalam hitungan menit. Kamu tahu apa yang ada dibenakku ? "Ya Allah, ada ga perempuan yang di umur dua puluh dua masih gosong kalo goreng nugget". Oke , ini lebay !
Singkat cerita, minggu siang sampe malam aku habiskan dengan kerja paruh waktu di apotik. Senin sudah menanti dan seperti biasa aku ngelab dari pagi. Di lab memang menyenangkan, apalagi kalo ada kaka tingkat yang sedang tebal dompetnya terus mentraktir kami sekalian. Kokyaku ! Yeaayy kedai masakan Jepang di area kampus jadi pilihan karena kami semua belum pernah kesana. 
















Malamnya sehabis nonton aku menginap ditempat Elma karena pulangnya tengah malam. Tak ada perasaan apa-apa, dan pas hendak masuk ke kamarnya yang kebetulan ternyata Shaumi juga ada .. Taraaaaa ~ aku mencium bau korek api dibakar dan aku pikir mereka berdua lagi ngerokok bareng. Oke, ini lebay ~ Ternyata mereka niatnya mau ngasi kejutan meskipun cuma ngasih lilin yang penting bisa ditiup, dan sayangnya tanpa sengaja aku sudah tahu duluan. Tapi terimakasih ya atas kotak bekal manis dari Umi dan Elma :) juga coklatnya dam :))


Kalo ditanya kembali, kamu senang ? Tentu aku senang :)
Selasa dan hari-hari selanjutnya seperti biasa aku di lab dan pulang selalu sore. Malamnya Caca minta temenin aku beli screen guard iphone-nya dan memang sudah lumayan lama kami belum ada ketemu lagi. 

Siap-siap tha, aku otw

Karena aku hobi sekali melakukan gerakan slow motion , dan Caca selalu bete bila aku lelet. Maka kali ini aku sudah bersiap dengan hap hap cepat. Tak berapa lama seperti terdengar suara mama meyuruh Caca masuk dan tumben biasanya dia nge-line dulu kalo udah depan rumah. Bergegaslah aku turun dan taraaaaa ~ aku ga sengaja liat Caca di dapur mau nyalain lilin kue yang dipegangnya. Untuk kedua kalinya mereka yang hendak ngasih kejutan gagaaal :)

Tapi terimakasih Caca :*




Kami lalu makan malam sama-sama dan nemenin Caca ke mini market sebentar sebelum mengantar aku pulang. Kemudian pas udah depan rumah aku kaget ko banyak motor dan ada Niken lari terbirit masuk rumah. Sempet bingung sih, dan ternyata mereka semua hendak ngasih kejutan juga namun sayang sekali gagal kembali :) akhirnya rencana matang mereka yang selalu berhasil mengerjai bila ada yang ulang tahun agaknya kali ini tidak berlaku untukku. It's ok i'm happy :) Terimakasih atas kue dan kado cangkirnya :))

Sayang kaliaaan semuaaa *pelukin satu-satu kecuali ijul*



 


Gagal semua sih kejutannya, tapi berkesan. Terimakasih orang-orang terkasih :)
Read more...

Sunday, February 16, 2014

Selamat Berkurang Jatah Hidup, Etha :)

Read more...

Wednesday, February 5, 2014

Endri, Anya dan Cinta (1)

Cinta
embun yang menanti datangnya pagi
Cinta
purnama yang menghiasi malam
Cinta
bumi yang membutuhkan matahari
Cinta
hamparan pasir yang dijemput ombak
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sepasang merpati yang bergejolak sedang membingkai kasih di altar yang mereka sebut bahagia. Malam seakan tak pernah menemukan kesunyian. Pagi tak pernah bosan menyapa kebahagiaan. Sepasang dua anak adam memang tak terpisahkan kala itu. Kala cinta datang mendekat..

Endri  : Anya, sungguh tak ada yang lebih beruntung di dunia ini selain saat aku memilikimu.
Anya  : Sebegitukah aku di hidupmu ? Terimakasih sudah membahagiakanku Endri.

Mereka senang menghabiskan waktu bersama dengn menyisiri keramaian kota sambil berwisata penganan khas mahasiswa. Nasi goreng dengan penyajian yang lumayan lama namun nikmat berselera bila disantap adalah favorit mereka.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tak ada yang salah dengan cinta, yang bila direguk begitu dalam memang sungguh menyenangkan, membahagiakan dan menyejukkan dibuatnya. Langitpun tak ubahnya kanvas biru muda putih yang hanya melukiskan wajah-wajah membahagiakan.

Siapa sangka pertemanan di kegiatan pengabdian desa  adalah awal dari segalanya. Segala hal indah mulai direncanakan dengan keoptimisan yang mengalahkan nalar biasa.

Endri  : Anya, apa aku diizinkan setingkat lebih tinggi derajatnya dihatimu ?
Anya  : Maksudmu ? Aku ga ngerti
Endri  : (sambil menunjuk dada bidangnya seolah itu adalah tempat hatinya berada)
Anya  : Hahahaha
Endri  : Kenapa ko kamu malah ketawa Any ? Saat ini aku tak butuh tawamu, aku hanya ingin persetujuanmu ?
Anya  : Jadi kita sedang tawar-menawar nih ? Hahaha
Endri  : Anya, aku serius. Kesepakatan ini mungkin sudah sering kamu lakukan dengan lelaki sebelum aku. Aku tak peduli, asal kamu bersedia memulai keindahan baru bersamaku. Bukan hanya sebagai teman namun sebagai seseorang yang mencintaimu jauh sebelum kamu menganggap ini adalah pertemanan biasa.
Anya  : (tersipu manis) Entahlah ~
Endri  : (menghela napas)
Anya  : Aku seolah tak ragu memulai ini kembali denganmu.
Endri  : Terimakasih Any
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kebersamaan memang selalu tak pernah lepas dengan bosan. Ia selalu hinggap sejenak atau bahkan terkadang menghisap nektar dari kebahagiaan yang sudah merekah. Waktu memang selalu menyimpan tabir disetiap insan manusia yang melaluinya.

Endri  : Anya, aku mau kita putus. Kamu jangan mengharapkan aku lagi.
Anya  : (bingung saat membaca pesan dari Endri)
Endri  : Sorry Any, kita baiknya udahan aja (tak berapa detik Endri mengetik pesan kembali)
Anya  : End, kamu jangan becanda ya. Aku lagi males nanggepin tau

Tak ada balasan sehabisnya. Semenit, sejam dan bahkan keesokan harinya tak ada pesan di ponsel tipis Anya. Baru kali ini ia bangun dengan pagi yang enggan menyambutnya bahagia. Anya mencoba menyingkirkan rasa takutnya dengan menelpon Endri seperti yang ia lakukan biasanya. Menyapa dan menyempurkan pagi dengan mendengarkan suaranya. Benar, pagi kali ini seolah bencana baginya. Endri tak kunjung mengangkat telpon Anya bahkan di panggilan kesembilan kalinya. Berkecamuk batin Anya dibuatnya hingga tak sadar air mata tumpah pada pipi cabinya. Ada apa Tuhan.. Ada apa dengan Endri yang tiba-tiba lain dari biasanya.

Pesan singkat berpuluh kali ia kirim pada lelakinya. Puluhan telpon pun tak kunjung dapat jawaban.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa cinta memang begitu tega berbuat demikian ?

Cinta
kita yang menjelma Aku dan Kamu
Cinta
deraian air  yang jatuh ditebing curam
Cinta
luka yang digores sengaja oleh ketidakjelasan
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hal tersulit bagi Anya adalah melalui kembali jalan hidupnya namun tanpa Endri. Bersyukur Anya masih banyak punya teman-teman yang senantiasa ada untuknya, menghiburnya tanpa harus tahu terlalu dalam rasa pahit yang ia reguk selama ini. Hari demi hari ia lalui dengan berat kenangan yang masih menumpuk di pelupuk mata hatinya. Kini ia hampir mampu melupakan Endri tanpa harus memiliki lelaki lain sebagai pelipur hati.

Minggu malam yang bagi sebagian pasangan muda-muda dihabiskan untuk jalan-jalan memang pernah Anya ritualkan. Namun kali ini tidak, Lita dan Nia teman kuliahnya hendak menginap di rumah. Anya sedikit terhibur dengan kedatangan mereka, karena biasanya mereka menghabiskan malam dengan bercerita panjang tentang apapun yang bagi mereka perlu diperbincangkan. Mereka akhirnya tertidur pulas karena kelelahan melawan malam dengan perbincangan.

Tik Tik ! Tik Tik ! (nada sms di hape Anya). Ia rogoh hape tipisnya di bawah bantal dan terkejutnya ia saat membaca pesan tersebut.

Any, kamu udah tidur ? Aku boleh nelpon kamu ? 




Read more...