Malam
ini, niatan hati mama, aa, aku untuk menjenguk Julak (panggilan kaka tertua
dalam bahasa Banjar) yang sedang koma berubah menjadi duka bagi kami
sekeluarga. Tak berapa lama dari kedatangan kami ke ruang ICU, beliau sudah diperbolehkan
Tuhan untuk kembali pada-Nya. Tak ayal tangis pun pecah riuh tak ramah,
pertanda bahwa kehilangan itu sungguh tidak mudah. “Sesungguhhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali”. Sudah
lama sekali aku memang tidak bercengkerama dengan beliau, terlebih saat kami
sekeluarga sudah berhijrah ke kota Martapura. Hampir sepuluh tahun mungkin aku
jarang bertemu, itupun hanya pada saat Lebaran. Mungkin itu yang membuat
tangisku tidak tumpah. Mungkin belum .. Kenangan yang diciptakan Tuhan atas
beliau hanya sedikit yang aku miliki, mungkin itu penyebabnya. Hanya saja,
tangis tak henti dan pingsan karena tak kuat menahan goncangan oleh keluargaku
yang lain tentu sangatlah mengiris batinku yang langsung melihat dan
mendengarkan. Memoar masa lalu dikala aku pun demikian, kini kembali lagi untuk
mengingatkan.
Bahwa kehilangan, akan selalu sebagai pelengkap kehidupan.
Sekedar mengingatkan bagi yang ditinggalkan.
Suratan takdir bagi yang meninggalkan.
Bahwa kematian…
adalah garis Tuhan sebelum engaku diciptakan.
Dengan pergi, orang akan mengerti.
Bahwa keberhargaan kesempatan dalam kebersamaan
adalah satu-satunya buah tangan manis bagi kami yang ditinggalkan.
Siapapun
yang sedang dirundung kehilangan, selimuti tangismu dengan doa dan harapan.
Semoga pemahaman-pemahaman baik itu segera datang, bahwa kehilangan tak akan
mampu memutus jalinan kehidupan. Ini hanya soal waktu, kelak kita pun demikian.



0 komentar:
Post a Comment