Pages

Monday, February 24, 2014

Bahwa Kehilangan

Malam ini, niatan hati mama, aa, aku untuk menjenguk Julak (panggilan kaka tertua dalam bahasa Banjar) yang sedang koma berubah menjadi duka bagi kami sekeluarga. Tak berapa lama dari kedatangan kami ke ruang ICU, beliau sudah diperbolehkan Tuhan untuk kembali pada-Nya. Tak ayal tangis pun pecah riuh tak ramah, pertanda bahwa kehilangan itu sungguh tidak mudah. “Sesungguhhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali”. Sudah lama sekali aku memang tidak bercengkerama dengan beliau, terlebih saat kami sekeluarga sudah berhijrah ke kota Martapura. Hampir sepuluh tahun mungkin aku jarang bertemu, itupun hanya pada saat Lebaran. Mungkin itu yang membuat tangisku tidak tumpah. Mungkin belum .. Kenangan yang diciptakan Tuhan atas beliau hanya sedikit yang aku miliki, mungkin itu penyebabnya. Hanya saja, tangis tak henti dan pingsan karena tak kuat menahan goncangan oleh keluargaku yang lain tentu sangatlah mengiris batinku yang langsung melihat dan mendengarkan. Memoar masa lalu dikala aku pun demikian, kini kembali lagi untuk mengingatkan.

Bahwa kehilangan, akan selalu sebagai pelengkap kehidupan.
Sekedar mengingatkan bagi yang ditinggalkan.
Suratan takdir bagi yang meninggalkan.
Bahwa kematian…
adalah garis Tuhan sebelum engaku diciptakan.
Dengan pergi, orang akan mengerti.
Bahwa keberhargaan kesempatan dalam kebersamaan
adalah satu-satunya buah tangan manis bagi kami yang ditinggalkan.

Siapapun yang sedang dirundung kehilangan, selimuti tangismu dengan doa dan harapan. Semoga pemahaman-pemahaman baik itu segera datang, bahwa kehilangan tak akan mampu memutus jalinan kehidupan. Ini hanya soal waktu, kelak kita pun demikian.

0 komentar: