Pages

Wednesday, February 5, 2014

Endri, Anya dan Cinta (1)

Cinta
embun yang menanti datangnya pagi
Cinta
purnama yang menghiasi malam
Cinta
bumi yang membutuhkan matahari
Cinta
hamparan pasir yang dijemput ombak
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sepasang merpati yang bergejolak sedang membingkai kasih di altar yang mereka sebut bahagia. Malam seakan tak pernah menemukan kesunyian. Pagi tak pernah bosan menyapa kebahagiaan. Sepasang dua anak adam memang tak terpisahkan kala itu. Kala cinta datang mendekat..

Endri  : Anya, sungguh tak ada yang lebih beruntung di dunia ini selain saat aku memilikimu.
Anya  : Sebegitukah aku di hidupmu ? Terimakasih sudah membahagiakanku Endri.

Mereka senang menghabiskan waktu bersama dengn menyisiri keramaian kota sambil berwisata penganan khas mahasiswa. Nasi goreng dengan penyajian yang lumayan lama namun nikmat berselera bila disantap adalah favorit mereka.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tak ada yang salah dengan cinta, yang bila direguk begitu dalam memang sungguh menyenangkan, membahagiakan dan menyejukkan dibuatnya. Langitpun tak ubahnya kanvas biru muda putih yang hanya melukiskan wajah-wajah membahagiakan.

Siapa sangka pertemanan di kegiatan pengabdian desa  adalah awal dari segalanya. Segala hal indah mulai direncanakan dengan keoptimisan yang mengalahkan nalar biasa.

Endri  : Anya, apa aku diizinkan setingkat lebih tinggi derajatnya dihatimu ?
Anya  : Maksudmu ? Aku ga ngerti
Endri  : (sambil menunjuk dada bidangnya seolah itu adalah tempat hatinya berada)
Anya  : Hahahaha
Endri  : Kenapa ko kamu malah ketawa Any ? Saat ini aku tak butuh tawamu, aku hanya ingin persetujuanmu ?
Anya  : Jadi kita sedang tawar-menawar nih ? Hahaha
Endri  : Anya, aku serius. Kesepakatan ini mungkin sudah sering kamu lakukan dengan lelaki sebelum aku. Aku tak peduli, asal kamu bersedia memulai keindahan baru bersamaku. Bukan hanya sebagai teman namun sebagai seseorang yang mencintaimu jauh sebelum kamu menganggap ini adalah pertemanan biasa.
Anya  : (tersipu manis) Entahlah ~
Endri  : (menghela napas)
Anya  : Aku seolah tak ragu memulai ini kembali denganmu.
Endri  : Terimakasih Any
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kebersamaan memang selalu tak pernah lepas dengan bosan. Ia selalu hinggap sejenak atau bahkan terkadang menghisap nektar dari kebahagiaan yang sudah merekah. Waktu memang selalu menyimpan tabir disetiap insan manusia yang melaluinya.

Endri  : Anya, aku mau kita putus. Kamu jangan mengharapkan aku lagi.
Anya  : (bingung saat membaca pesan dari Endri)
Endri  : Sorry Any, kita baiknya udahan aja (tak berapa detik Endri mengetik pesan kembali)
Anya  : End, kamu jangan becanda ya. Aku lagi males nanggepin tau

Tak ada balasan sehabisnya. Semenit, sejam dan bahkan keesokan harinya tak ada pesan di ponsel tipis Anya. Baru kali ini ia bangun dengan pagi yang enggan menyambutnya bahagia. Anya mencoba menyingkirkan rasa takutnya dengan menelpon Endri seperti yang ia lakukan biasanya. Menyapa dan menyempurkan pagi dengan mendengarkan suaranya. Benar, pagi kali ini seolah bencana baginya. Endri tak kunjung mengangkat telpon Anya bahkan di panggilan kesembilan kalinya. Berkecamuk batin Anya dibuatnya hingga tak sadar air mata tumpah pada pipi cabinya. Ada apa Tuhan.. Ada apa dengan Endri yang tiba-tiba lain dari biasanya.

Pesan singkat berpuluh kali ia kirim pada lelakinya. Puluhan telpon pun tak kunjung dapat jawaban.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa cinta memang begitu tega berbuat demikian ?

Cinta
kita yang menjelma Aku dan Kamu
Cinta
deraian air  yang jatuh ditebing curam
Cinta
luka yang digores sengaja oleh ketidakjelasan
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hal tersulit bagi Anya adalah melalui kembali jalan hidupnya namun tanpa Endri. Bersyukur Anya masih banyak punya teman-teman yang senantiasa ada untuknya, menghiburnya tanpa harus tahu terlalu dalam rasa pahit yang ia reguk selama ini. Hari demi hari ia lalui dengan berat kenangan yang masih menumpuk di pelupuk mata hatinya. Kini ia hampir mampu melupakan Endri tanpa harus memiliki lelaki lain sebagai pelipur hati.

Minggu malam yang bagi sebagian pasangan muda-muda dihabiskan untuk jalan-jalan memang pernah Anya ritualkan. Namun kali ini tidak, Lita dan Nia teman kuliahnya hendak menginap di rumah. Anya sedikit terhibur dengan kedatangan mereka, karena biasanya mereka menghabiskan malam dengan bercerita panjang tentang apapun yang bagi mereka perlu diperbincangkan. Mereka akhirnya tertidur pulas karena kelelahan melawan malam dengan perbincangan.

Tik Tik ! Tik Tik ! (nada sms di hape Anya). Ia rogoh hape tipisnya di bawah bantal dan terkejutnya ia saat membaca pesan tersebut.

Any, kamu udah tidur ? Aku boleh nelpon kamu ? 




0 komentar: