Pages

Wednesday, January 8, 2014

Banjarbaru Kali Ini, Harusnya Menyadarkan Kita Semua


Hampir 22 tahun aku hidup di Banjarbaru dan Martapura, baru kali ini aku melihat banjir begitu gigihnya menutupi kemetropolitan kota idaman ini. Menghalangi aktivitas penghuninya untuk beraktivitas di Kamis basah ini. Yang hendak kuliah atau bahkan harus ujian pun harus melipatgandakan kegigihannya menaklukan pagi ini, oh iya salah, maksudku menaklukkan kemalasan untuk menghadapi pagi ini. Yang hendak bekerja pun sama halnya demikian, tanggung jawabnya sedang Allah uji dengan keegoisannya memanjakan diri di Kamis yang begitu dingin ini. 
Oh ya, aku hendak berkisah tentang Banjarbaru beberapa tahun silam dulu. Aku dan keluarga memang tinggal di Martapura namun ayahku hebat hobi sekali mengajakku jalan-jalan ke Banjarbaru. Apa kalian tahu, aku paling suka melihat patung botol Prof di dekat bundaran Banjarbaru. Mengunjungi pameran dan antraksi tong edan di halaman Unlam, berlarian di taman Idaman, balap-balapan sama ayah di lapangan Murjani (aku naik sepeda roda tiga dan ayah jalan kaki), makan lontong dan nasi kuning di Komet tiap minggu pagi. Aaah~ sungguh, Banjarbaru dulu tak sepadat ini. Jalan Taruna Praja mana pernah semerawut seperti tiap sore begini, dulu bangunan ruko masih bisa di hitung jari. Daerah loktabat mana pernah sepadat ini ditumbuhi bangunan perumahan dan warung-warung berjejeran. 

https://twitter.com/Rescue_Kalsel
Berbeda sekali dengan sekarang, daerah Trikora yang dulunya hutan kini pun sudah banyak perumahan. Ruko berjejeran dimana-mana seolah tak mau membiarkan ada lahan kosong bila di pinggir jalan. Caffe mudah ditemukan, restoran pun hampir selalu ada ditiap sudut jalan. Yaa, kota ini sekarang seakan tak pernah mati. Hiruk pikuk jalanan selalu riuh tiap aku pulang di malam hari. Namun sangat disayangkan, kali ini..
di Kamis basah ini..


https://twitter.com/Rescue_Kalsel
Lihatlah sekarang wahai penghuni Idaman ! Kota yang dulu aku rasa lebih nyaman dari sekarang ..

Sempurnanya pembangunan Banjarbaru belum diimbangi  dengan sempurnya drainase di kota ini. Berkurangnya lahan serapan air, kurangnya ruang terbuka hijau, dan kebiasan masyarakat menjadikan sungai sebagai tong sampah yang benar :(
 
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). (41)
https://twitter.com/Rescue_Kalsel
Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan  orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (42)
https://twitter.com/Rescue_Kalsel
Ayat Al-Quran tersebut sudah sangat jelas menegaskan bahwa kerusakan yang ada dimuka bumi tidak lain adalah akibat ulah manusia itu sendiri yang senantiasa tak henti merusak tatanan alam yang ada. Surah Ar-Rum jelas mewajibkan kita sebagai umat manusia yang paling mulia di muka bumi ini agar selalu melestarikan lingkungan dan bukannya malah mengeksploitasi lingkungan demi keegoisan dan ketamakan kepentingan manusia semata tanpa diimbangi dengan kontrol pada dampak yang akan ditimbulkan. Manusia enggan memelihara lingkungan, mereka lebih suka memelihara kezaliman, ketamakan, dan keserakahan yang pada akhirnya imbas dari perbuatan mereka tersebut akan kembali pada dirinya. 
Eksploitasi lahan tambang yang membabi buta dan pemerintah yang faktanya tutup mata melihat para penjahat keindahan alam memperkosa keelokan lingkungan. Para penambang tak berpengetahuan, pengembang perumahan yang acuh pada lingkungan, pemerintah yang tak pandai mengelola kekuasaan serta masyarakat yang tak sadar akan pentingnya menjaga lingkungan adalah tersangka utama dari kerusakan alam yang mulai bermunculan. Memang ekploitasi sumber daya Kalimantan Selatan adalah sejarah panjang mulai dari zaman penjajahan. Mulai dari perubahan fungsi hutan, pertambangan dan eksploitasi alih fungsi lahan. Itu adalah induk dari segala akar permasalahan lingkungan yang tak pernah habis dibicarakan namun tetap tak ada perubahan. Para pejabat pemerintahan juga tak kuasa menadah tangan menerima gumpalan uang dari penjahat-penjahat lingkungan agar mereka tak dipenjarakan. Biadab memang ! Ayahku pernah berkata, "Apa kaku pernah melihat daerah Sungai Danau, Batu Licin pada puluhan tahun silam ? Sekarang mungkin akan lebih buruk dari yang kau bayangkan". Lubang bekas tambang yang tak ubahnya menjadi kubangan kolam beracun yang merusak lingkungan. Ah, bedebah orang-orang itu. Apa perlu Tuhan timpakan bencana berulang agar kesadaran kita mulai dihidupkan ? Ah tentulah tidak, itu namanya penyesalan bukan ? Tidaklah terlambat bila kita sadar sekarang. Sadar melakukan kesalahan seraya mulai memperbaiki kebiasan. 
Membiasakan agar membuang sampah tidak sembarangan adalah hal yang memang sepele namun jarang dilakukan bagi kebanyakan orang. Tidak membuang sampah di sungai  jarang dilakukan warga sekitaran yang hidup di sana. Lihat saja pinggiran sungai Martapura ! Tidak membuang sampah dipinggir jalan dengan berharap ada tukang sampah yang memungutnya adalah juga perbuatan salah, dan itu masih sering kita jumpai kan ? Membakar sampah dan menimbunnya pun juga harusnya tak dilakukan agar air serapan tak tercemar. Buanglah sampah pada tempat pembuangan resmi yang dikelola oleh pemerintah.
Semoga ini banjir terakhir di Banjarbaru.. 
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerh yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya yang tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Al-A’raf (7) : 56-58)
 
 Mari sama-sama kita jaga lingkungan dengan baik dan benar ! (9'.')9






0 komentar: